Hidayatullah.com—Kewajiban menurut aurat tak hanya ada pada kaum Muslim saja, karena kewajiban ini juga diterapkan oleh semua agama.
Demikian disampaikan seorang mantan biarawati, Irena Handono dalam kajian bertema “Menutup Aurat Kewajiban Semua Agama” belum lama ini.
Irena Handono mengatakan bahwa perempuan yang berkerudung (khimar) tidaklah sama dengan berhijab ataujilbab (pakaian yang menutupi seluruh tubuh, kecuali muka dan telapat tangan).
Di dalam Islam setiap Muslim wajib mengimani setiap kitab-kitab yang diturunkan Allah subhana wa ta’ala melalui nabi-nabiNya. Zabur, Taurat, al-Qur’an dan termasuk pula Injil atau Bibel. Karena menurutnya, semua isinya mentauhidkan Allah sebagai Tuhan Yang Esa.
Hanya saja masalahnya, saat ini hanya al-Qur’an yang hingga kini terjaga keaslian sebagaimana janji Allah. Sedangkan yang lain, sebelum dirubah oleh tangan manusia. Oleh karena itu, selain al-Qur’an sudah tidak ada lagi kitab-kitab yang orisinil.
Irena Handono menyampaikan bahwa di dalam Bibel-pun, ajakan untuk menutup kepala atau berkerudung pun telah ada. Misalnya pada Kejadian 24: 65, Katanya kepada hamba itu: “Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?” Jawab hamba itu: “Dialah tuanku itu.” Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia. I Korintus 11: 6 “Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya,” ujar mantan biarawati yang kemudian memeluk Islam ini menambahkan.
Menurut wanita yang kini mendalami dunia kristologi ini, wanita berkerudung (khimar), berhijab/berjilbab sebenarnya diterapkan pada semua agama. Namun, tata cara dan konsepnya berbeda.
Di samping itu konsepnya pun diubah-ubah sesuai kehendak pemuka agama dan umatnya. Tidak sempurna seperti Islam.
“Misalnya di dalam Katolik (suster), Yahudi, Dewi Kwan Im, Hindu, pakaian tradisional Jepang, wanita Mesir kuno, Eropa abad pertengahan, Anglo Saxon dan Anglo Norman, Amish (AS),” kata pendiri Irena Center ini dengan menunjukkan slide bergambar pada jamaah kajian.
Kewajiban tiap Muslimah
Menurutnya, seorang wanita Muslim (Muslimah) dikenai kewajiban hampir seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan agar ditutup atau dihijab. Kewajiban ini diturunkan agar wanita-wanita Muslim terhindar dari godaan yang datang bukan dari mahramnya, dan sebagai pembeda di antara umat lain.
Hanya saja, maraknya mode atau fashion tata cara memakai kerudung/jilbab/hijab  bagi wanita Muslim saat ini banyak yang keluar dari syariat. Sehingga berjilbab tapi masih membentu, terlihat dan terbuka yang  bukan semestinya.
Bahkan Nabi di dalam banyak haditsnya menyebutkan wanita seperti ini hakikatnya adalah berpakaian tapi telanjang. Dan tidak akan masuk surga, tidak pula mencium wangi surga.Nau’zubillah, katanya
Lebih jauh ia mengajak para Muslimah menutup aurat sebagaimana petunjuk Nabi.
“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, “ ujarnya mengutip perintah menutup aurat dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat 59.
“Berkerudung atau khimar adalah apa yang ditutup itu ialah kepala, leher, dan sebagian dada tanpa menutupi wajah,” kutip Irena. Dan khimar semestinya
tidak tipis dan menutupi bagian dada. Sedangkan jilbab (hijab) adalah penutup untuk seluruhnya hingga batas mata kaki atau mendekati tanah.
Kewajiban berkerudung (khimar) dan berhijab diperuntukan pada kondisi apapun, sekalipun wanita ini sedang keluar rumah ataupun haid. Di manapun dan kapanpun jika berada di luar mesti menggunakannya (hijab/khimar).
Menurutnya, ini sesuai hadits Nabi dari Ummu Athiyah. Di mana Rasulullah kala itu memerintahkan para Muslimah keluar pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Saat itu Ummu Athiyah bertanya, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah menjawab, “Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya,”  demikian penjelasannya mengutih hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim.
Lahir di Surabaya, 30 Juli 1954 dengan nama kecil Han Hoo Lie ia dibesarkan dalam lingkungan Katolik.  Ia bahkan pernah disekolahkan di Seminari Agung (Institut Filsafat Teologia Katolik) hingga akhirnya manjadi seorang biarawati.
Tahun 1983, ia akhirnya mengucapkan dua kalimat Syahadat di  Masjid Al-Falah Surabaya,  sejak itu, waktunya digunakan untuk kegiatan Islam.   termasuk mendirikan IRENA CENTER, sebuah lembaga kajian kristologi dan mencegah aksi pemurtadan.*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...