Oleh: Muhaimin Iqbal

KETIKA saya sampaikan ke teman-teman dekat rencana perjalanan ke Palestina khususnya Gaza, banyak yang mengkerutkan dahi. Palestina? Gaza? Ada apa di sana? Bukankan banyak sekali kegiatan kemanusiaan yang bisa dilakukan di negeri sendiri? Mengapa ke Gaza yang penuh dengan bahaya? Ke Gaza atau secara umum Palestina adalah perintah langsung dalam Al-Qur’an yang belum banyak diketahui oleh kaum muslimin, perjalanan atau perhatian kita pada Palestina ini menjadi bagian dari keimanan kita.

Perintah langsung tersebut ada di ayat berikut:

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأَرْضَ المُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَلاَ تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS al Maidah [5]:21)

Memang perintah ini aslinya diucapkan oleh Nabi Musa ‘Alaihi Salam kepada kaumnya, namun karena perintah ini di-quote di Al-Qur’an yang menjadi pegangan umat akhir zaman – maka perintah ini juga berlaku bagi kita. Sama dengan ucapan Nabi Saleh ‘Alaihi Salam :

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…" (QS Hud [11]:61), maka tugas memakmurkan bumi ini bukan hanya tugas kaum Nabi Saleh ‘Alaihi Salam. Tugas memakmurkan bumi menjadi tugas kita semua.

Perintah untuk menjadi umat terbaik yang menyatukan Palestina dalam kekuasaan kaum muslimin ini juga diperkuat oleh kabar nubuwah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam berikut :

“Awal perkara ini adalah kenabian dan rahmat, kemudian menjadi kekhalifahan dan rahmat, lalu menjadi kerajaan dan rahmat, kemudian menjadi tanda dan rahmat, dan setelah itu mereka menggigit bibir hingga membekas sebagaimana keledai bertakadum (zaman belenggu), oleh karena itu hendaklah kalian berjihad, dan sebaik-baik jihad kalian adalah pertalian (persaudaraan) dan sebaik-baik persaudaraan kalian adalah menyatukan negeri Asqalan.” (HR. Ath-Tabrani)

Lagi-lagi yang dimaksud negeri Asqalan adalah Palestina, daerah yang disebut Asqalan itu benar-benar ada – dan merupakan sejengkal lahan yang paling sulit direbut kaum Muslimin dari musuh utamanya yaitu zionis Israel yang berpuluh tahun menguasai daerah ini.

Daerah yang sekarang berada dalam wilayah Gaza ini Alhamdulillah sudah dikuasai kembali oleh kaum muslimin dan menjadi benteng pertahanan paling depan dalam menghadapi agresi Zionis – jaraknya hanya sekitar 1-2 km dari kota terdekat Zionis Israel - Ashdod.

Dengan ayat dan hadits tersebut di atas, mengunjungi Gaza adalah seperti melihat dari dekat tugas berat dan bukti-bukti kebenaran al-Qur’an dan hadits itu. Bukan hanya bukti kondisi dan situasi wilayah yang kita bisa lihat langsung, tetapi juga hal-hal lain seperti bukti-bukti kebenaran Kebun-Kebun al-Quran yang sudah saya tulis panjang lebar di situs ini.

Gaza dari Kairo

Dalam perjalanan ini kami sempat dijamu oleh pemilik kebun yang memiliki kebun dengan komposisi tanaman yang exactly seperti yang kita rancang berbasis al-Qur’an yang kita sebut kebun al-Qur’an tersebut. Ke-enam tanaman spesifiknya ada di kebun ini yaitu kurma, anggur, zaitu, tin, delima dan pisang.

Mengunjungi (calon) negeri akhir zaman juga tidak se-menyeram-kan yang dibayangkan orang pada umumnya, malah kalau saya rating pelayanan imigrasinya adalah yang terbaik di dunia dari seluruh negara yang pernah saya kunjungi.

Perbandingannya dengan negeri besar tetangganya seperti bumi dan langit. Gaza - negeri yang masih dijajah dan dipenjara oleh Zionis Israel ini – seolah benar-benar berusaha semaksimal mungkin mengamalkan ajaran Islam yang menganjurkan penghormatan para tamu. Keluar maupun masuk imigrasinya kami diperlakukan secara istimewa, disambut di ruang VIP dan dijamu. Sementara di negeri tetangganya yang besar dan merdeka kami ditelantarkan berjam-jam hanya untuk bisa masuk atau keluar dari imigrasinya – seolah negeri besar ini masih menggunakan falsafah ‘kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah’!

Suatu saat negeri akhir zaman ini bener-bener merdeka InsyaAllah, saat itu negeri ini bisa menjadi rujukan untuk negeri-negeri kaum muslimin lainnya. Rujukan tentang bagaimana melayani rakyatnya, melayani tamunya, mengolah buminya, membangun kekuatan tentara untuk melindungi tanah dan rakyatnya dlsb.

Setelah saya jelaskan seperti ini, ada teman yang bertanya: “Lantas bagaimana dengan kemiskinan yang masih ada di negeri sendiri? Apakah kita fokuskan membantu saudara-saudara kita di Gaza/Palestina dan mentelantarkan kemiskinan di negeri sendiri?”

Jawaban saya adalah begini: kita harus mulai membiasakan penggunakan kata ‘dan’ dan bukan kata ‘atau’! Membantu saudara-saudara kita di Gaza dan Palestina pada umumnya bukan merupakan pilihan/alternatif dari membantu saudara-saudara kita di negeri sendiri. Kita punya tanggung jawab pada keduanya.

Maka kita harus mulai bener-bener berbuat untuk mengentaskan kemiskinan di negeri kita yang kini, dan sekaligus juga mulai berbuat untuk Gaza/Palestina – karena merekalah yang ‘mewakili’ kita setiap saat menghadapi musuh-musuh abadi kita, sambil mereka menyiapkan negeri akhir zaman – negeri untuk kita semua – yang khabarnya tersirat dari ayat dan hadits tersebut di atas. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar



Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...