JARUM jam menunjukkan pukul 17.25 WIB. Shalat maghrib masih kurang sekitar 20 menit. Hari masih terang. Matahari belum sepenuhnya tenggelam. Jingga masih terlukis indah di ufuk barat. Lalu lalang kendaraan juga masih ramai. Tapi, di sela-sela hingar bingar aktivitas warga di sekitar kompleks Masjid Jogokariyan, Jogjakarta ini, ada sejumlah jamaah yang sedang asyik masuk beribadah. Mereka terdiri dari laki dan perempuan. Usia mereka kebanyakan sudah sepuh. Jamaah laki-laki di dalam masjid. Sedangkan yang perempuan di luar samping kiri. Ada yang sedang shalat sunnah, baca al-Quran, dan berzikir.
Salah satunya Sarjio, perempuan berusia 73 tahun. Paras perempuan ini senada dengan usianya: tua. Wajahnya penuh guratan. Pandanganya juga tak tajam seperti dulu. Ketika itu, jari-jemari tangan kanannya yang mungil, kecil, dan keriput sibuk meniti satu demi satu biji tasbih. Dari bibirnya lamat-lamat terdengar kalimat tahmid, tahlil, dan takbir.

Rumah perempuan yang akrab disapa Mbah Sarjio ini memang tak begitu jauh. Hanya selemparan batu. Tapi, karena kondisi tubuhnya yang sudah ringkih, dia memakan waktu sekitar sepuluh menit. Hal itu dia lakukannya lima kali sehari.

Diakui Sarjio, dia belum lama shalat lima kali berjamaah dalam sehari di masjid. Biasanya dia shalat di rumah. Tidak berjamaah. Dia hanya sesekali saja shalat jamaah di masjid. Namun, setelah pengurus masjid Jogokariyan membuat program hadiah umrah untuk shalat jamaah, hati Sarjio tergerak. Dia pun langsung mendaftar. Dan, sejak itu dia pun shalat jamaah setiap waktu di masjid. Meski begitu, ungkap Sarjio, apa yang dilakukannya itu bukan semata-mata karena hadiah umrah.

“Itu hanya hadiah. Dapat syukur tidak dapat juga tidak apa-apa. Tapi yang jelas, ya, ibadahnya,” ujarnya ketika ditemui hidayatullah.com beberapa waktu lalu.

Masjid Jogokariyan memang mengadakan lomba shalat jamaah berhadiah umrah. Panitia menyediakan empat pake umrah. Dua untuk kategori shalat jamaah dan yang kedua lagi untuk kategori hafalan surat-surat tertentu. Program itu dimulai tanggal 25 November 2012 lalu.

Alasanya, kata Sudiwahyono, salah satu pengurus masjid Jogokariyan, program itu untuk menarik simpati masyarakat agar semangat shalat berjamaah di masjid. Lebih dari itu, menurutnya, jika shalat jamaah 40 hari berturut-turut tanpa ketinggalan takbiratul ihram, seperti kata hadits Nabi, maka akan menuai dua hadiah dari Allah, yaitu hadiah bebas dari neraka dan kemunafikan.

“Program itu juga terinspirasi dari hadits tersebut,” katanya kepada situs ini.
Respon masyarakat sangat besar. Banyak warga baik di sekitar kompleks masjid maupun di wilayah Jogjakarta lainnya yang mendaftar. Bahkan, kini telah tercatat sekitar 106 orang yang telah mendaftar. Dari jumlah itu, katanya ada satu peserta yang rumahnya berjarak sekitar 3 KM dari masjid. Peserta itu sangat disiplin dan hampir selalu stand by setiap waktu shalat. “Subhanallah. Dia hampir tak pernah telat shalat jamaah meski jauh,” tuturnya.

Panitia membagi peserta menjadi dua bagian sesuai usia: lansia dan umum. Jadi, yang akan dapat hadiah umrah satu untuk lansia dan satu lagi untuk umum. Program ini tidak asalan. Ada peraturan ketat dengan tekhnologi yang bisa memonitoring setiap peserta. Caranya, setiap peserta harus check in dengan menekan tombol finger print yang disediakan panitia di depan masjid.

Finger print juga disediakan untuk laki dan perempuan. Waktu check lock 20 menit sebelum azan. Hasil check lock itu akan dilihat dan diakumulasi setiap sepekan sekali. Peserta yang akan keluar sebagai pemenang dan berhak mendapat hadiah umrah adalah yang tidak bolong shalat jamaah dan hadir tepat waktu seperti yang terdapat dalam data check lock.

Menurut Sudiwahyono program tersebut awalnya sempat menuai protes dari beberapa orang. Program tersebut dianggap bisa merusak niat seseorang beribadah. Namun, katanya, progaram itu penting untuk memotivasi beribadah.

“Lebih baik masuk surga terpaksa dari pada masuk neraka sukarela,” ujarnya berseloroh.*

Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...