Kementerian Agama mengusulkan adanya pemberian beasiswa pendidikan kepada anak jamaah haji yang meninggal dunia atau cacat permanen karena kecelakaan selama proses ibadah. Namun, menurut Menteri Agama, Suryadharma Ali, gagasan itu baru tingkat awal dan baru disampaikan secara nonformal kepada pihak terkait. Pihak dimaksud seluruh anggota bank penerima setoran (BPS) yang jumlahnya mencapai 27 bank, baik konvensional maupun syariah.

Meski begitu usulan ini dinilainya penting karena tidak sedikit perekonomian keluarga yang ditinggalkan jamaah haji, baik meninggal maupun cacat permanen, menjadi sulit. Sebab pencari nafkah utama sudah tidak bisa lagi menjalankan perannya.

"Saya akan meminta kepada bank penerima setoran (BPS) untuk memikirkan secara bersama memberikan tambahan pelayanan bagi jamaah haji, terutama bagi mereka yang wafat bisa karena kecelakaan atau sakit. Ada juga kecelakaan sampai jadi cacat permanen," katanya saat pembukaan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri tahun 2013 bersama bank Mandiri di gedung Kemenag, Jumat (8/2/2013).

Detail dan rinciannya, kata Suryadharma, dipersilakan kepada para BPS untuk membahasnya, termasuk apakah yang mendapatkan beasiswa itu satu anak, dua anak, atau ada opsi lainnya. "Saya yakin BPS bisa. Sangat bisa. BPS itu kan jumlahnya besar dan bank juga mempunyai kebiasaan menyisihkan keuntungan yang disebut CSR (Corporate Social Resposibility)," ujarnya.

Sebaliknya jumlah jamaah haji yang meninggal dan masuk kriteria layak mendapatkan santunan lebih berupa beasiswa itu dinilainya sedikit, terutama jika dibandingkan dengan besarnya dana haji yang diendapkan di perbankan sampai bertahun-tahun itu.

"Apalagi jika "digotong" bareng-bareng sama bank-bank besar itu. Kecillah nilainya. Supaya selain mendapatkan asuransi, jamaah haji juga dapat fasilitas beasiswa," ucap Suryadharma meyakinkan.

Jumlah jamaah haji meninggal di tanah suci rata-rata sekitar 400 orang. Tahun lalu jamaah wafat sekitar 366 jiwa atau turun dibandingkan 419 jamaah pada 2011. Pada 2010 sekitar 382 jamaah mengembuskan nafas terakhirnya saat menjalankan rukun Islam yang kelima itu.

Direktur Institutional Banking Bank Mandiri, Abdul Rachman, menanggapi keinginan itu pihaknya segera mencoba melakukan pembicaraan dengan BPS lainnya. "Kita harus bicara sama BPS yang lain dulu. Harus saling berkomunikasi satu sama lain," ujarnya, dalam berita laman JPNN.

Pihaknya mengaku belum bisa menanggapi karena akan menjadi pendapat sepihak. Sedangkan BPS terdiri dari banyak pihak dan memiliki pertimbangan masing-masing. Selama ini dalam penyelenggaraan ibadah haji, BPS rajin menyediakan souvenir untuk para jamaah, mulai dari payung sampai tas.*
Rep: Insan Kamil
Red: Syaiful Irwan
Sumber

Label:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...