Oleh Ustadz Fahmi Suwaidi

Setelah memasuki kota, Allenby menyempatkan berdiri di pemakaman para syuhada perang pembebasan Al-Quds sejak era sahabat radhiallahu’anhum hingga Perang Salib. Dengan congkak ia menyombongkan kemenangan pasukannya dan berujar, “Hari ini Perang Salib telah berakhir dengan kemenangan kami.”

Sembilanpuluh lima tahun silam, tepatnya tahun 1917, tanah Palestina terpaksa diserahkan oleh Khilafah Turki Utsmani kepada Jenderal Allenby dari Inggris. Turki yang menjadi sekutu Jerman dalam Perang Dunia I menderita kekalahan memalukan. Sebagai pecundang dalam perang, imperium itu harus merelakan beberapa wilayahnya kepada pihak Sekutu sebagai pemenang.

Bumi Syam yang dibebaskan oleh Khilafah Islamiyah di bawah Umar bin Khaththab pun mulai terbelah. Setahun sebelumnya, diam-diam Inggris dan Perancis telah menandatangani Perjanjian Sykes-Picott. Bumi Khilafah dibagi-bagi. Irak dan Yordan jatuh ke tangan Inggris, sementara Lebanon dan Palestina diserahkan pada Perancis. Namun belakangan Palestina diserahkan kepada Inggris.

Sebelumnya, Inggris telah berjanji pada Emir Faisal dari Hijaz, bahwa ia akan diangkat menjadi Raja Arab yang berkuasa di Damaskus dan memimpin Jazirah Arab. Syaratnya, ia mengerahkan pasukannya membantu Inggris memerangi tentara Turki. Perang pun bergejolak di antara sesama Muslim. Damaskus dikuasai pasukan Faisal sementara Allenby memasuki kota suci Al-Quds.

Setelah memasuki kota, Allenby menyempatkan berdiri di pemakaman para syuhada perang pembebasan Al-Quds sejak era sahabat radhiallahu’anhum hingga Perang Salib. Dengan congkak ia menyombongkan kemenangan pasukannya dan berujar, “Hari ini Perang Salib telah berakhir dengan kemenangan kami.”

Kemenangan ini melalui proses panjang. Inggris melalui tim intelijen militernya menggarap serius pencaplokan wilayah Utsmani. Melalui Letkol T.E. Lawrence, intel legendarisnya, Inggris meyakinkan para pemimpin Arab bahwa mereka harus memberontak kepada kekuasaan Turki.

Lalu bagaimana janji Inggris pada Faisal? Janji tinggal janji. Ia urung jadi raja Arab sebagaimana impiannya. Dunia Barat pun mentertawakannya dan justru menobatkan Lawrence, intel homoseks yang membina Faisal, sebagai Lawrence the Arabian -sang “Raja Arab tanpa mahkota.” Faisal hanya dipajang menjadi boneka Inggris di Irak dan menemui ajal, diduga karena diracun arsenik.

Surat Balfour

Sukses merebut Palestina dan mengakali Emir Faisal pada tahun 1917, Inggris punya agenda lain. Tanggal 2 November tahun itu juga, Menteri Luar Negeri Arthur Balfour menuliskan sebuah janji bagi kaum Yahudi. Janji itu ditulis dalam surat Balfour yang ditujukan pada Lord Walter Rothschild, tokoh Zionis Inggris terkemuka. Surat yang kelak dikenal sebagai Deklarasi Balfour itu menjanjikan bahwa pemerintah Ratu Inggris menyukai “berdirinya sebuah tanah air bagi kaum Yahudi di Palestina dan akan berusaha sebaik-baiknya memfasilitasi tujuan itu.”

Jelas bahwa Balfour tak peduli nasib bangsa Palestina, pemilik tanah yang dijanjikan pada kaum Yahudi itu. Dalam surat lainnya tahun 1919, Balfour mengatakan, “Di Palestina kami tak merencanakan atau bahkan mempertimbangkan pendapat penduduk negeri itu, meskipun komisi dari Amerika mempertanyakannya. Keempat negara besar memiliki komitmen pada Zionisme. Dan Zionisme; benar ataupun salah, baik ataupun buruk, adalah tradisi yang berakar panjang dalam kebutuhan masa kini, harapan masa depan, dari makna yang jauh lebih penting daripada keinginan dan prasangka 700 ribu orang Arab yang kini menghuni tanah kuno itu.”

Lalu, ide negara zionis di tanah Palestina pun menggelinding bak bola salju. Peran Inggris sebagai pemimpin dunia Barat melancarkan ide Yahudi itu. Inilah kelihaian Yahudi yang diwarisi sejak era Perang Ahzab. Jika dahulu mereka bisa menghasut Quraisy dan Ghathafan untuk mengepung Muslim di Madinah dengan puluhan ribu pasukan, kini mereka menggalang dukungan politik negara-negara besar untuk kepentingannya. Kelicikan politik, inilah trik pertama kaum Zionis.

Riba dan Mesiu

Bagaimana kaum Zionis bisa mempengaruhi pemerintah Inggris agar menjalankan agenda mereka? Lewat jeratan hutang. Rothschild adalah bankir Yahudi ternama di Inggris dan Eropa. Ia memutar uangnya, dengan riba tentu saja, hingga mampu menghutangi negara-negara yang terlibat perang dan butuh biaya besar.

Ketika leher Inggris sudah terjerat hutang dan ribanya, Rothschild meminta tanah untuk bangsanya. Inilah trik kedua yang diwarisi Yahudi sejak para Nabi Bani Israel didustakan dan dibunuh oleh kaumnya sendiri, mereka tak pernah mau meninggalkan bisnis riba yang dilaknat Allah Ta’ala.

Ada juga trik lain. Balfour mendapat pengaruh, agar Inggris mendukung Zionisme, dari Chaim Weizman. Dosen di Universitas Manchester itu adalah ahli kimia Yahudi kelahiran Rusia. Ia dihormati Barat karena perannya dalam proses penemuan acetone, bahan penting dalam pembuatan mesiu baru yang tak berasap. Penemuan ini sangat bermanfaat bagi dunia militer Barat. Inilah warisan Yahudi dari Bani Nadir yang diusir Rasulullah saw dari Madinah, keahlian membuat persenjataan yang menjadi kebutuhan militer berbagai bangsa.

Maka, kelicikan politik, harta riba dan inovasi senjata dipadukan oleh Yahudi untuk memaksakan cita-citanya kepada dunia. Sebuah negara haram bernama Israel pun berdiri, pada tahun 1948, di atas tanah bangsa Palestina yang menjaganya sebagai wakaf kaum Muslimin sejak era Khalifah Umar bin Khaththab. Penjajahan terhadap bumi kaum Muslimin pun terus merajalela, menunggu mereka menyadari kewajiban jihad untuk merebutnya kembali.
Sumber

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...