Setiap melafadzkan kata “Aceh”, fikiran kita selalu dibawa ke tragedy yang sangat memilukan yang menimpa rakyat Aceh 8 tahun silam yaitu gempa dahsyat yang disusul dengan tsunami. Tragedi ini telah meluluh lantakkan bangunan-bangunan dan menewaskan 300-an ribu masyarakat Aceh.

Lembaga-lembaga kemanusiaan swasta maupun pemerintah; dalam maupun luar negeri hiruk pikuk memberikan bantuan dalam rangka memulihkan keadaan Aceh. Lambat laun kondisi Aceh dapat pulih kembali, namun banyak mewariskan akibat-akibat sampingan. Di antaranya adalah pola hidup yang konsumtif, kurang bersemangat bekerja; yang kemudian berdampak pada melambungnya harga-harga kebutuhan pokok masyarakat.

Pada Sabtu, 23 Juni 2012 sekitar pukul 11.30 wib, Aceh kembali bergetar dengan goncangam gempa. Walaupun gempa ini tergolong kecil, tetapi cukup membuat masyarakat khawatir akan terulangnya kejadian 8 tahun silam. Bahkan getaran siang itu dirasakan pula oleh masyarakat Medan.

Kondisi masyarakat Aceh

Di Kota Banda Aceh (ibukota Nangroe Aceh Darussalam), terdapat berbagai macam pemeluk agama. Meskipun yang dominan adalah pemeluk agama Islam, namun kita juga dapat menjumpai beberapa tempat ibadah bagi agama-agama non Muslim seperti Gereja dan Klenteng. Sekitar 98 % penduduk Kota Banda Aceh memeluk agama Islam dan 2 % agama lainnya. Bahkan di kecamatan Meuraxa, dan Ulee Kareng 100 persen penduduknya beragama Islam. Penduduk Non Muslim paling banyak bertempat tinggal di Kecamatan Kuta Alam. Jumlah penduduk pada tahun 2010 sebesar 224.209 jiwa berdasarkan hasil proyeksi sensus penduduk yang dilakukan oleh BPS. Dengan luas wilayah Kota Banda Aceh 61.36 kilo meter persegi maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kota Banda Aceh adalah sebanyak 3.654 jiwa per kilo meter persegi.

Kondisi umum masyarakat Aceh adalah agamis bernafaskan Islam, dengan ciri fanatik terhadap madzhab syafi’i dan yang dijabarkan dalam tarekat Sattariyah dan Naqsabandiyah. Sehingga ada dua sebutan yang melekat bagi masyarakat Aceh yaitu Dayah dan Sunnah. Dayah dilekatkan pada masyarakat penganut tarekat dengan berbagai macam amaliyah seperti peringatan maulid Nabi  , Isra’ Mi’raj dan lain-lain; Sedangkan Sunnah dilekatkan kepada selain mereka.



Dirosa ikut “menggetarkan”Aceh.

Setelah sepekan melakukan perintisan dakwah di Medan Sumatra Utara bersama Tim, Ketua LP3Q DPP Wahdah Islamiyah tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertandang ke NAD dengan Bus malam 12 jam lamanya, dalam rangka sosialisasi LP3Q, temu pengurus dan binaan serta terlebih khusus melakukan serangkaian pelatihan Dirosa.

Agenda hari pertama 20 Juni adalah pelatihan Dirosa bagi segenap pengurus DPD Wahdah Islamiyah banda Aceh, diikuti oleh 6 ustadz dan 30 ustadazah bertempat di rumah qur’an DPD Wahdah Islamiyah sekitar masjid Oman Banda Aceh. Agenda hari kedua 21 juni 2012 adalah pelatihan Dirosa bagi masyarakat umum dan mahasiswa, bertempat di masjid Al Hasyimi/ masjid Putih. Pelatihan ini berjalan lancar walaupun pesertanya kurang maksimal karena mahasiswa yang diharapkan hadir (IAIN Ar Raniri dan Unsyiah) sedang ujian final. Sedangkan di malam harinya, melakukan pertemuan dengan segenap pengurus DPD Wahdah Islamiyah Banda Aceh.

Pada hari ketiga 22 Juni 2012 ada dua agenda yaitu napak tilas tsunami dan sosialisasi Dirosa di masjid At Taqwa Lhong Raya. Napak tilas tsunami diawali dari pantai Ulee Lheue, pekuburan massal dengan 14.000 lebih mujahid Tsunami, Kapal apung PLTD yang terseret 5 km dan terparkir di pemukiman warga. Sedangkan sosialisasi Dirosa di masjid Taqwa diikuti oleh kurang lebih 50 peserta yang merupakan jamaah taklim rutin ust. Muh. Hatta, LC. Target kegiatan ini adalah pengenalan Dirosa sebagai sebuah sistem pembinaan Islam, siapa tahu nantinya ada yang tertarik ikut pembinaan Dirosa atau ada yang berminat untuk ikut mengajarkan Al-Qur'an sistem Dirosa.

Di hari keempat 23 Juni 2012 merupakan hari yang terakhir dengan agenda yang padat. Pertama, berkunjung ke museum tsunami dan lanjutan ke kapal apung PLTD. Kedua, Liqo’ bersama Lembaga Muslimah sekaligus mengisi tarbiyahnya. Ketiga, mengisi pelatihan Dirosa kepada 30-an mahasiswa Ma’had Ash Shiddiq (binaan yayasan ash shilah) antara ashar sampai Isya’. Keempat, mabit bersama pengurus DPD Wahdah Islamiyah Banda Aceh. Dari rangkaian pelatihan kali ini setidaknya DPD Wahdah Islamiyah Banda Aceh “bergetar” dan mulai kepanasan untuk segera mempraktekkannya apalagi bulan Ramadhan telah dekat.

Peluang-peluang.

Wahdah Islamiyah memiliki peluang yang sangat besar untuk bisa berkembang di tengah-tengah masyarakat Aceh yang agamis. Apalagi didukung dengan penerapan otonomi khusus yang memberikan kesempatan yang lebih luas bagi gerakan-gerakan dakwah. DPD Wahdah Islamiyah Banda Aceh walaupun baru satu tahun resmi sebagai DPD, namun sepak terjangnya telah masuk ke kampus-kampus besar terutama IAIN Ar Raniri dan Unsyiah.

Tantangan

Sebagai lembaga dakwah pendatang baru, DPD Wahdah Islamiyah Banda Aceh-pun tak lepas dari aneka hambatan dan tantangan, baik internal maupun eksternal. Di internal lembaga, masih butuh waktu yang cukup untuk lebih mendewasakan para pengurus dan kader lembaga agar bisa memaksimalkan pembinaannya terhadap diri sendiri dan masyarakat. Juga keberadaan kantor sekretariat yang sampai sekarang masih menumpang (hingga batas Desember 2012 depan) sedikit banyak meminta perhatian yang serius, terlebih lagi dengan adanya instruksi Ketiua Umum DPP Wahdah Islamiyah agar setiap DPD menyiapkan lahan yang strategis untuk markas.

Markaz DPD Wahdah Islamiyah Banda Aceh sekarang di Lampriet sangat strategis, di jantung kota, dekat kampus dan pusat pemerintahan. Lokasi tersebut berukuran kurang lebih 25 m x 20 m dan di atasnya telah berdiri gedung 7m x 20 m dan 2 lantai. Saat ini gedung tersebut selain sebagai markaz DPD juga untuk Rumah Qur’an dan telah ditawarkan kepada DPD Wahdah Islamiyah Banda Aceh untuk dibebaskan. Hanya saja harganya yang cukup tinggi mencapai 1,2 M, yang menurut harga umum sudah tergolong murah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...