Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas baginda Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keluarga dan segenap pengikutnya hingga hari akhir kelak.

Dalam banyak Ayat dan Hadits, Allah Ta'ala dan Rasul-Nya menegaskan pada
kita, bahwa orang beriman itu bersaudara. Bersaudara dalam arti saling mencintai, menghormati, membela dan sebagainya. Perumpamaan mereka, ibarat satu bangunan kokoh yang saling melengkapi. Atau seolah satu tubuh yang sempurna. Jika satu anggotanya didera sakit, maka yang lain akan larut merasakannya. Dan ini merupakan hakikat ukhuwah yang diserukan Islam. Hingga wajar jika kemudian menjadi satu ketetapan hukum asal dalam agama ini. Bahwa orang yang beriman itu bersaudara dengan segala konsekwensinya.

Olehnya, haram bagi seseorang melanggar tapal batas dari konsekwensi persaudaraan itu, kecuali jika ia datang dengan dalil dan hujjah yang kuat. Bukan berdasarkan dugaan atau prasangka. Misalnya mengghibah, hajr (boikot), mencela mereka dan selainnya. Sebab, hukum asal dari perbuatan-perbuatan ini adalah haram. Bahkan, termasuk dosa besar yang membinasakan. Dimana seorang muslim tidak boleh keluar darinya melainkan dengan dalil dan argumentasi yang kuat pula.

Di sinilah letak persoalan yang kita hadapi. Kadang kita terlalu cepat dan tergesa untuk keluar dari hukum asal ini. Tidak ada upaya dari dalam diri untuk tabayyun dan klarifikasi atas prasangka terhadap saudara muslim kita. Terlalu sering kita begitu percaya pada kabar burung dari orang yang kita anggap tsiqoh –terpercaya-. Padahal, merupakan perkara aksiomatik dalam kaidah agama kita, bahwa dugaan yang lemah tidak bisa menandingi kekuatan dalil-dalil yang sharih. "Cukuplah seorang dikatakan pendusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar". (HR. Imam Muslim).

Jika demikian halnya, maka dapat dipastikan bahwa saat itu kita telah terseret dalam kegelapan zalim yang menakutkan. Tergelincir dalam kubangan kerugian yang memiriskan. Sebab ancaman "kebangkrutan" amal shalih di akhirat telah menanti di depan mata. Sungguh, orang yang paling rugi, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, adalah orang yang bangkrut amal kebajikannya pada hari kiamat lantaran perlakuan lalim atas saudara muslimnya sendiri.

Bahkan, lebih celaka lagi, tidak jarang kita malah nekat berdusta atas kehormatan dan harga diri saudara kita. Atas nama membela sunnah, katanya. Dan kelancangan ini kita lakukan kala kita tidak lagi menemukan cela untuk menjatuhkan palu vonis atas saudara agar tersemat padanya gelar ahli bid'ah, sururi, hizbi atau gelar-gelar buruk lainnya. Hmm, sekali lagi atas nama agama, katanya. Bohong yang semestinya boleh untuk menciptakan lahirnya kedamaian di antara kaum muslimin, justru kita manfaatkan untuk menghembuskan keresahan dalam barisan mereka. Memecah belah persatuan. Serta membuat musuh bersorak gembira dan merasa terwakili untuk urusan itu. Padahal, Mungkin saja kita sendiri yang justru terjebak pada apa yang kita peringatkan tersebut. Imam Abu Ishaq al-Jurjani berkata: "Cukuplah kedustaan itu sebagai bid'ah".[i]

Duh, kenikmatan apa sebenarnya yang dirasakan mereka yang gemar berbohong atas harga diri saudaranya. Kepuasan macam apa yang mereka dapatkan kala menjadikan kehormatan saudaranya sebagai bahan olok-olokan dan tertawaan di majelis-majelis mereka. Sungguh, kecerobohan mereka itu sama dengan menyantap bangkai daging saudaranya mentah-mentah. Padahal, mestinya ia merasa sedih kala mendapatkan kesalahan pada diri saudara muslimnya. Imam al-Syafi'i berkata: ”Tidak pernah sekali-pun aku mendebat seseorang lalu aku senang jika ia kalah". (Shahih, riwayat Ibnu Hibban). Tidakkah mereka itu takut, bahwa orang yang ia zalimi dan ghibahi bakal menuntut haknya di hari kiamat nanti? Duhai, kemana gerangan rasa takut itu??

Imam Ibnu Shalah meriwayatkan, tatkala Ibnu Abi Hatim menguraikan kitabnya, al-Jarh Wa al-Ta'dil di depan khalayak, dikabarkan padanya ucapan Yahya bin Ma'in: "Sungguh kita sedang mencela (mengkritik) orang-orang yang mungkin saja telah mendiami tempat-tempat mereka di dalam surga sejak dua ratus tahun lalu". Ibnu Abi Hatim tertegun. Kemudian menangis pilu. Kedua tangannya gemetar, hingga lembaran-lembaran yang ada dalam genggamannya berserakan jatuh.[ii]

Ya, boleh jadi orang yang selalu kita cela, kita ghibah, dan rendahkan telah menapaki istana-istana mereka di surga. Mungkin saja orang yang kita anggap (baca: tuduh) sesat atau menyimpang telah meraih derajat tinggi di sisi Allah Ta'ala. Yakni, derajat mulia yang mereka gapai bukan hanya lantaran amal shalih mereka semata. Bahkan, mungkin dari "sumbangan" amal kebaikan yang kita persembahkan secara percuma kepada mereka akibat tuduhan kita yang tidak mendasar.

Bersikaplah seperti ulama salaf kita. Sebenarnya, mereka memiliki udzur untuk kemudian dibolehkan baginya membeberkan cela dan keburukan orang lain (perawi hadits). Sebab, kedudukannya sebagai pengawal al-sunnah menuntut demikian. Disamping demi mashlahat dan kebaikan bagi agama. Akan tetapi, masih saja mereka khawatir, jangan sampai perbuatan mereka itu menjadi bumerang bagi dirinya di hari kemudian. Karena mereka sadar, bahwa pada dasarnya, apa yang mereka kerjakan itu adalah terlarang. Dan keliru dalam menyikapinya bakal berujung penyesalan abadi.

Banyak muatan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas. Sebab kadang kita lupa, bahwa sikap wara' dan takut kepada Allah Ta'ala termasuk syarat yang harus wujud dalam perkara mengkritik saudara kita. Ini-pun jika memang mengharuskan kita untuk mengkritik. Pasalnya, dalam banyak keadaan, saat melontarkan kritik atas orang lain, kita kadang tidak jeli memisahkan antara ghirah terhadap agama dan intishar ala nafs –karena tendensi pribadi-. Kendati lisan kita dengan fasihnya mengulang-ulang, ini semua semata-mata atas nama agama dan al-sunnah.

Padahal, lubuk hati kita parau membisikkan, berlaku adillah!! Tidak sedikit kritik kita sebenarnya dilatari kepentingan pribadi, hasad dan dengki. Makanya kritik yang kita bidikkan itu tidak lagi berjalan di atas dalil dan manhaj tawazun (keadilan). Dan inilah yang banyak disedihkan oleh para ulama kita. Perselisihan dan saling melecehkan yang lahir lantaran desakan hawa nafsu dan informasi dusta tanpa upaya klarifikasi.

Bahkan kita selalu berusaha menampik bisikan itu. Lalu mengais-ngais dalih bahwa hal ini-pun telah ada dan dilakukan para salaf. Tujuannya adalah untuk menjaga kemurnian agama dan sunnah. Akan tetapi kita lupa, atau mungkin pura-pura tidak tahu, sikap tegas mereka itu tegak di atas landasan akhlak, wara', takut dan sikap kehati-hatian. Bukan serampangan dan membabi buta seperti yang kita lakukan. Hingga kerap kita bersemangat mengaplikasikan satu sisi dari sikap para salaf, kemudian mengabaikan sisi lain yang barangkali lebih urgen. Kita hanya pandai melihat sikap tegas ulama salaf dalam mengkritik, namun jahil dalam menilik kelemah-lembutan, tabayyun dan sikap wara' mereka.

Makanya al-Hafidz al-Dzahabi mengingatkan: "Membincangkan para perawi butuh sikap wara' yang sempurna serta terlepas dari belitan hawa nafsu dan kecendrungan diri".[iii] Duh, nasehat ini beliau persembahkan kepada para ulama kibar dalam masalah jarh wa al-ta'dil, yang sekali lagi, memiliki udzur untuk "membongkar" kejelekan orang lain. Maka bagaimana dengan mereka yang "baru kemarin" belajar agama, kemudian tergesa memposisikan dirinya sejajar dengan ulama-ulama tersebut?? Atau, bahkan lebih "lancang" dari mereka? Sungguh, satu ketergesaan yang amat berbahaya. Allah Ta'ala berfirman: "Sukakah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya". (Qs: al-Hujurat : 12). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Setiap muslim atas muslim yang lain haram darah, harta dan kehormatannya". (HR. Imam Muslim).

Ketahuilah, sikap berlebihan dalam memberi kritik itu, kendati kita berada pada posisi yang dibolehkan untuknya, bisa menjadi aib dan merubuhkan muru'ah pelakunya sendiri. Karenanya, sebagian salaf justru balik mengkritik para ahli jarh (kritik) yang melampaui batas. Contohnya Imam Ali bin al-Madini, seperti dipaparkan oleh Imam al-Mizzi,[iv] beliau tidak menerima perkataan Abu Nu'aim (al-Fadl bin Dukain) dan Affan (Ibnu Muslim) kendati keduanya tergolong orang jujur –bahkan termasuk jajaran punggawa ahli hadits-, lantaran keduanya tidak pernah meninggalkan seorang perawi-pun melainkan ia berbicara tentang kejelekannya.
Karenanya, kembali pada contoh kehidupan para salaf merupakan keharusan yang menuntut. Dalam segala sisi kehidupan mereka. Termasuk diantaranya metode dalam mengkritik dan memberi nasehat pada saudara mereka. Dan hati-hati dari melampaui batas dalam urusan ini. Sebab, pembatas antara hukum asal dan kebolehan padanya sangat tipis. Tipis sekali. "Dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja, padahal dia di sisi Allah adalah besar". (Qs: al-Nuur:15). Wallahu a'lam. (AbRh).

[i] . Ahwaal al-Rijal, 22. Program al-Maktabah asy-Syamilah, vol. 3.3

[ii] . Uluum al-Hadits, hal: 350-351.

[iii] . al-Muuqidzah, hal 82.

[iv] . Tahzib al-Kamal 20/168, Program al-Maktabah al-Syamilah, vol 3.3.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...