Oleh Mukhtar al-Akhdhor Thibawi

Segala puji hanya milik Alloh semata. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi terakhir. Wa ba’du…

Telah datang pertanyaanmu kepadaku, dan aku memahami bahwa ada sebagian orang yang berkata, “Tidak boleh mengambil pernyataan Syaikh al-Abbad, karena beliau hanyalah seorang muhaddits yang tidak spesialis dalam ilmu Jarh wat Ta’dil (ilmu untuk menilai kekuatan atau kelemahan para perawi hadits -pent). Maka inilah jawabannya.

Ketika kita menimbang-nimbang dan membanding-bandingkan antara para ulama, maka hal itu wajib dilakukan dengan ilmu dan keadilan. Karena orang yang tidak berilmu terkadang hanya mengenal orang yang keutamaannya lebih rendah dan tidak mengenal orang yang keutamaannya lebih tinggi. Sedangkan orang yang zholim bisa melebihutamakan orang yang lebih rendah keutamaannya padahal dia mengetahui orang itu lebih rendah keutamaannya.


Dan banyak sekali manusia yang mengetahui keutamaan guru mereka dalam suatu ilmu atau suatu peribadahan, akan tetapi mereka tidak mengetahui ilmu dan keutamaan orang lain. Sampai-sampai bisa engkau dapati ada orang yang melebihutamakan seorang Syaikh di atas Syaikhnya, padahal Syaikh tersebut lebih mengutamakan Syaikh orang itu atas dirinya. Orang-orang yang semacam ini berarti tidak memiliki ilmu. Mirip dengan mereka ada orang lebih mengutamakan kotanya karena dia tidak mengenal keutamaan kota-kota lainnya.

Menghukumi antara dua hal bahwa keduanya memiliki kesamaan atau memiliki perbedaan, membutuhkan pengetahuan akan kedua hal tersebut dan pengetahuan tentang permasalahan yang menjadi inti dalam membedakan keduanya. Ini dari sisi ilmu.

Sedangkan dari sisi keadilan, maka membutuhkan muroqobah kepada Alloh (keadaan merasa diawasi oleh Alloh) dalam urusan-urusan semacam ini.

Maka pernyataan bahwa Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad bukan orang yang spesialis dalam ilmu Jarh wat Ta’dil, atau pernyataan bahwa beliau perlu mengkhususkan diri dalam ilmu tersebut untuk bisa mengetahui sunnah dan bid’ah; adalah pernyataan yang berada pada puncak kebodohan dan kezholiman. Ini yang pertama.

Yang kedua, meskipun saya tidak cakap dalam menyampaikan biografi Syaikh al-Allamah al-Fadhil Abdul Muhsin al-Abbad dengan biografi yang bisa memenuhi haknya sebagaimana layaknya bagi orang yang semisal beliau; hanya saja pembicaraan tentang kedudukan beliau dalam ilmu, dan kebenaran landasan ilmiah beliau adalah suatu perkara yang bisa dirasakan oleh setiap orang yang membaca kitab-kitab dan risalah-risalah beliau yang sangat berharga.

Maka tidak ragu lagi, bahwa sikap tengah yang dimiliki oleh Syaikh dalam medan ilmiah adalah hasil dari pemahaman mendalam beliau terhadap landasan-landasan syariat islam. Bagaimana tidak demikian! Padahal beliau termasuk ulama yang banyak memberikan pelayanan terhadap sunnah nabawiyah, baik dengan pengajaran ataupun dengan penyampaian syarah (penjelasan). Sungguh saya sangat heran terhadap orang yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang ahli hadits, namun pada waktu itu juga dia menyatakan bahwa beliau tidak spesialis dalam ilmu Jarh wat Ta’dil?!

Seandainya ulama ahli hadits – yang telah menghabiskan umur mereka untuk meneliti kitab-kitab sunnah dan menggeluti para perawi sanad hadits – bukan orang yang paling berhak untuk berbicara dalam ilmu Jarh wat ta’dil, suatu ilmu yang menjadi kekhususan dalam ilmu sanad?! Maka apakah yang berhak menyandang kedudukan ini adalah orang yang baru memiliki sedikit pembicaraan dalam mushtholah hadits, dalam bentuk pengajaran ataupun tulisan, sedangkan dia belum terbiasa menshohihkan dan mendhoifkan hadits, padahal ini adalah puncak dari ilmu jarh wat ta’dil?!

Iya, mungkin bisa kita katakan bahwa Syaikh al-Abbad tidak mengkhususkan diri dalam ilmu jarh wat ta’dil menurut deskripsi orang-orang yang mengkritik beliau. Karena yang biasa dilakukan oleh para pengkritik beliau tidak lain hanyalah ilmu untuk membicarakan manusia dengan hawa nafsu.

Adapun ilmu jarh wat ta’dil yang syar’i, maka beliau adalah orang yang paling berhak untuk berbicara tentangnya. Karena pembicaraan dalam ilmu ini tidak hanya bersandar pada telaah terhadap kitab-kitab rijal (kitab yang menjelaskan tentang keadaan para perawi hadits -pent) saja. Akan tetapi juga butuh kepada pengetahuan yang mendalam terhadap perbuatan para imam hadits dalam kitab-kitab sunnah, dan keikutsertaan yang kuat dalam ilmu-ilmu syar’i. Dan ini adalah perkara yang tidak didapati pada kebanyakan orang yang membicarakan manusia dengan celaan.

Oleh karena itu, sikap tengah yang dimiliki oleh Syaikh al-Abbad adalah hasil dari pengalaman panjang dalam ilmu dan pemahaman terhadap manhaj ahlussunnah dalam masalah kritikan terhadap ulama dan tulisan.

Barangsiapa melihat kepada risalah tulisan Syaikh yang terkenal dengan judul “Rifqon Ahlassunnah…” (bersikap lembutlah wahai ahlussunnah..) dia akan mendapati pemahaman luas terhadap ilmu yang mulia ini. Dimana Syaikh telah mengisyaratkan adanya beberapa penggunaan dan pemfungsian yang buruk terhadap ilmu ini atau pemahaman yang buruk terhadapnya. Terlebih lagi bahwa nama-nama yang beliau bela melalui risalah tersebut adalah orang-orang yang telah beliau kenal dengan baik. Dan beliau memperkirakan sejauh mana bahaya yang akan timbul dari menghinakan dan mencela mereka, terhadap keberlangsungan dakwah di negri-negri mereka. Oleh karenanya, beliau tegas dan jelas dalam menolak celaan terhadap mereka.

Maka ilmu jarh wat ta’dil sebagaimana yang telah biasa dikerjakan oleh para imam, adalah mustahil, tertutup dan tidak akan mungkin dilakukan oleh orang yang tidak mengurusi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hadits, serta tidak mampu mengkritisi dan menghukumi sanad-sanad. Demikian juga bahwa ilmu jarh wat ta’dil bukanlah hanya untuk mencela saja. Bahkan juga untuk memuji dan membatah tuduhan terhadap orang yang tidak berhak. Sedangkan saudara-saudara kita telah menggunakannya untuk mencela dan untuk membela orang-orang yang mencela, dengan cara yang tidak benar.

Maka jelas berbeda antara orang yang menukil perkataan para imam jarh wat ta’dil tanpa pengetahuan terhadap perkataan mereka, tanpa pemahaman sempurna terhadap makna dan kandungan perkataan mereka dan juga ketentuan-ketentuan dalam kaidah ini, dengan orang yang memiliki kesamaan dengan mereka dalam istilah saja.

Disamping itu, kita perlu mengetahui bahwa apa yang terjadi sekarang ini tidak ada hubungannya dengan ilmu jarh wat ta’dil sama sekali. Karena kita tidak sedang membahas tentang kekuatan dan ketelitian hafalan serta kejujuran para perawi dalam menukil berita. Akan tetapi perkaranya berkisar antara tabdi’ dan tadhlil (menyatakan seseorang sebagai ahli bid’ah dan orang yang sesat -pent). Dan hal ini tidak perlu kepada ilmu jarh wat ta’dil, karena kaitannya dengan akidah dan prinsip dasar orang-orang yang dicela.

Sedangkan urusan tabdi’ dan tadhlil tidaklah terbatas pada para ulama jarh wat ta’dil. Bahkan para fuqoha (ahli fiqih) dan para ulama ushuluddin (akidah), merekalah yang lebih berhak dalam hal ini. Maka barangsiapa yang tidak menjadi imam dalam ilmu tauhid dan tidak pula dalam ilmu ushul fiqih, bagaimana mungkin dia bisa membid’ahkan dan menyesatkan, padahal hal ini sangat erat kaitannya dengan kedua ilmu ini?!

Inilah sisi kesamaran tempat terperosoknya para pengusung celaan di masa-masa sekarang ini. Pencelaan terhadap madzhab dalam akidah atau terhadap prinsip-prinsip ilmiah, bukanlah merupakan kekhususan para imam jarh wat ta’dil. Mereka hanyalah orang-orang yang menukilkan saja. Tidak ada seorang pun yang berkata bahwa para imam jarh wat ta’dil adalah para imam islam yang membuat kaidah dalam permasalahan takfir (pengkafiran), tafsiq (pemfasikan) dan tadhlil (penyesatan). Bahkan permasalahan ini adalah perannya para imam agama dari kalangan fuqoha`ul hadits dan ulama tauhid, yang telah ditetapkan oleh para imam jarh wat ta’dil dalam biografi-biografi mereka. Maka pembicaraan tentang kekafiran, kefasikan dan kesesatan bukanlah tugasnya para imam jarh wat ta’dil, kecuali jika mereka adalah imam dalam akidah, fiqih dan ushul.

Maka Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan yang seperti mereka di zaman ini semisal al-Utsaimin, bukanlah imam dalam jarh wat ta’dil yang spesialis dalam ilmu tersebut. Meskipun demikian, engkau dapati mereka membid’ahkan dalam kitab-kitab mereka. Dan hukum yang mereka berikan itu lebih utama dan lebih teliti dibandingkan hukum yang diberikan oleh adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar jika perkaranya berkaitan dengan pencelaan dalam masalah akidah, pernyataan-pernyataan dan prinsip-prinsip ilmiah. Meskipun secara umum, adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar lebih utama dalam memberikan biografi para perawi hadits.

Dengan ini engkau tahu bahwa pensyaratan spesialisasi dalam ilmu jarh wat ta’dil – sebagaimana ada pada ulama ahli hadits – untuk membid’ahkan atau menyesatkan ulama dan dai adalah pernyataan baru dari para pengusung pernyataan ini. Sesungguhnya ilmu jarh wat ta’dil adalah sarana untuk mencapai dua hal atau dua tujuan. Dan orang-orang yang suka mencela itu telah membikin rancu antara keduanya dengan kerancuan yang sangat buruk.

Pertama, menyaring sanad-sanad untuk menentukan keabsahan berita-berita. Perkara ini berkisar pada masalah kejujuran dan ketelitian. Dan inilah yang dipakai untuk menerima atau menolak para perawi hadits.

Kedua, membicarakan berbagai madzhab para ulama, meskipun para ulama yang dibicarakan itu bukan para perawi hadits. Yakni, berbicara tentang sunnah dan bid’ah. Maka (pembicaraan tentang) hal ini, prioritas yang pertama adalah dikembalikan kepada para imam sunnah, bukan para imam hadits. Karena terkadang didapati di kalangan para imam hadits ada orang yang termasuk ahlu bid’ah atau menyimpang dari sebagian prinsip ahlusunnah. Dan terkadang didapati pula di kalangan para imam sunnah, ada orang yang bukan termasuk ahli hadits. Minimalnya, dia tidak mengkhususkan diri dengan ilmu-ilmu hadits meskipun dia memiliki bagian keikutsertaan dalam ilmu hadits.

Dan poin yang kedua inilah yang menjadi poros perselisihan yang terjadi sekarang ini. Dan saya telah menjelaskan kepada bahwa tidak ada kaitan antaranya dengan ilmu jarh wat ta’dil dengan makna yang pertama.

Dengan ini engkau tahu bahwa Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad lebih utama – jika ditinjau dari kemampuan ilmiah, kekokohan manhaj dan kebenaran prinsip-prinsip ilmiahnya – untuk mengkritisi permasalahan akidah dan prinsip-prinsip ilmiah serta berbagai hal yang mengikutinya seperti pencelaan dan pujian; dibandingkan dengan kebanyakan orang yang terkenal suka membicarakan secara mendalam dalam perkara ini dan secara serampangan, padahal mereka tidak memiliki andil sedikit pun dalam ilmu-ilmu ini.

Hal ini bukan berarti bahwa Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad memiliki hukum-hukum yang ma’shum (terjaga dari kesalahan -pent). Akan tetapi, kritikan terhadap beliau dengan khurofat-khurofat ini hanyalah gurauan belaka. Barangsiapa menyelisihi beliau, hendaknya menyebutkan dalil-dalilnya dan menjauhi perbandingan-perbandingan semacam ini.

Maka perhatikan hal ini baik-baik, dan jadikan ia selalu di hadapanmu. Jika perkaranya tidak berkaitan dengan kebenaran suatu berita, maka orang yang paling berhak membicarakan para ulama dan dai dengan celaan karena sebab madzhab atau prinsip ilmiah yang dianut adalah para imam sunnah, bukan para imam hadits.

Dan ketika kita mengatakan “al-Kitab dan sunnah”, maka yang kami maksud dengan sunnah di sini adalah al-hadits yang pantas dijadikan dalil.

Sedangkan ketika kita membedakan antara sunnah dan hadits, maka yang kami maksud dengan sunnah adalah, segala sesuatu yang menjadi sandaran akidah, hukum syar’i dan prinsip-prinsip ilmiah yang membedakan antara sunni (pengikut sunnah) dan ahli bid’ah.

Abdurrohman bin Mahdi berkata – sedangkan beliau adalah imam jarh wat ta’dil – “Sufyan ats-Tsauri adalah imam dalam masalah hadits, tapi bukan imam dalam sunnah. Sedangkan al-Auza’i adalah imam dalam sunnah tapi bukan imam dalam masalah hadits. Dan Malik bin Anas adalah imam dalam kedua hal itu.”

Sufyan bin Uyainah berkata, “Jangan kalian dengarkan Baqiyyah (jika berbicara) tentang sunnah. Namun dengarkanlah ia (jika berbicara) tentang pahala dan yang lain.” (Muqoddimah al-Jarh wat Ta’dil 40-41)

Maka di sini mereka membedakan antara ilmu tentang keabsahan hadits dengan istinbath (pengambilan kesimpulan) hukum-hukum syar’i.

Maka sebagian pernyataan yang dipandang oleh ahlussunnah sebagai pernyataan bid’ah, terkadang diucapkan oleh sebagian imam hadits. Oleh karena itulah mereka tidak dicela karenanya, berbeda dengan para imam sunnah yang dicela karenanya. Dan dengan sebab perbedaan antara sunnah dengan makna akidah dan dengan makna hadits inilah, Syaikhul Islam ad-Darimi lebih utama dibandingkan dengan imam Muslim.

Oleh karena ini pula, engkau dapati para imam dalam masalah ini tidak menyebutkan lafaz “imam hadits” saja, akan tetapi mereka juga menggandengkannya selalu dengan sunnah. Sehingga mereka mengatakan “para imam hadits dan sunnah.”

Dan segala puji hanyalah milik Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada rosul yang paling mulia. Wassalamu’alaikum warohmatulloh.

Arzio, Al-Jazair 21 Maret 2010

Mukhtar al-Akhdhor Thibawi

Sumber: http://www.direktori-islam.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...