Puluhan kilo plutonium-unsur kimia yang bisa digunakan untuk bom nuklir-ditemukan di fasilitas nuklir Prancis, Cadarache Center yang berlokasi di selatan negara itu. Penemuan itu membuat pemerintah Prancis kalang kabut dan memerintahkan penyelidikan segera atas keberadaan bahan berbahaya itu.

Sebelumnya, Cadarache Center menyatakan hanya memiliki 8 kilogram bahan plutonium. Namun setelah dilakukan inspeksi oleh Komisi Energi Atom Prancis (CEA) ke fasilitas nuklir itu, ditemukan sekitar 22 kilogram plutonium. Laporan Radio Deutsche Welle Rabu kemarin, mengutip pernyataan CEA menyebutkan, total plutonium yang ditemukan di Cadarache Center mencapai 40 kilogram.

Mendengar laporan CEA, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy langsung memerintahkan investigasi menyeluruh. "Kami membutuhkan tranparansi dalam masalah ini, karena jumlahnya tidak normal," kata Menteri Muda Lingkungan Hidup Prancis, Chantal Jouanno.

Lembaga pemantau keselamatan nuklir di Prancis, ASN juga memerintahkan agar kegiatan di fasilitas nuklir Cadarache Center dihentikan demi keselatan para pekerjanya.

Plutonium dalam jumlah besar di fasilitas nuklir Prancis itu sebenarnya sudah diketahui sejak bulan Juni lalu, namun tidak pernah dilaporkan ke aparat berwenang di Prancis. Menteri Ekologi Prancis, Jean-Louis Borloo menyatakan sangat menyesalkan adanya jeda yang cukup lama antara waktu penemuan dan keputusan untuk melaporkan adanya bahan plutonium yang jumlahnya cukup besar itu.

Para aktivis nuklir mengecam pemerintah Prancis yang lalai mengawasi fasilitas nuklirnya. Mereka menuding para pejabat berwenang telah kehilangan kendali dalam memantau aktivitas di jaringan reaktor yang sangat luas, rencana perlakuan terhadap jaringan reaktor dan fasilitas penelitiannya. Saat ini, Prancis mengelola sekitar 58 reaktor nuklir dan mengklaim sebagai negara yang paling unggul dalam teknologi nuklirnya.

Penemuan bahan plutonium dengan jumlah berlebihan di fasilitas nuklir Prancis menjadi skandal yang memalukan bagi negara itu. Karena Prancis bersama sejumlah negara-negara sekutunya, terutama AS sedang gencar-gencarnya melakukan tekanan terhadap negara Iran agar menghentikan program nuklirnya. Prancis, AS dan sejumlah kekuatan dunia lainnya menuding program nuklir Iran digunakan untuk membuat persenjataan nuklir.

Skandal plutonium Prancis membuktikan bahwa negara-negara besar seperti AS, Inggris dan Prancis luput dan tidak tersentuh (imunitas) oleh aturan internasional. Negara-negara itu dengan sewenang-wenang memerintahkan negara lain menghentikan program nuklirnya, sementara mereka sendiri tidak melaporkan bahkan seenaknya mengelola fasilitas nuklirnya.

Terkait masalah ini, utusan negara Iran untuk IAEA (badan PBB yang memantau pengelola fasilitas nuklir negara-negara di dunia) Ali Ashgar Soltaniyeh mengecam Prancis, Inggris dan AS yang sebenarnya telah melanggar aturan-aturan dalam kesepakatan non-proliferasi nuklir selama 40 tahun dan selama itu pula tidak pernah dikenakan sanksi internasional. (ln/prtv)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...