Para pelaku mengaku merasa bahagia dan justru merasa harmonis dalam kehidupannya. Yang sewot pasti kaum feminis.

Ketika suami Zawiah Ismail, 45, tidak kunjung pulang ke rumah setelah jam kerja, ia tidak harus menunggu hingga larut malam, atau khawatir laki-laki itu pergi keluar menggoda gadis muda. Hal itu karena ia tahu, suaminya kalau tidak pergi ke rumah istri pertama, pasti pergi ke istri kedua.

"Jika ia tidak pulang, saya tinggal menelepon istri pertama atau kedua, dan bertanya kepada mereka, 'Apa dia di sana bersamamu?’ ‘Oh iya, OK!" cerita Zawiah sambil tertawa dan makan bersama dua orang wanita yang lebih tua usianya, beserta anak-anak mereka.

Zawiah adalah istri ketiga dari Mokhtar Samad, 59 tahun. Seorang pengusaha sukses yang menikahi Latipah Shamsuddin, 54, pada tahun 1970. Kemudian ia menikah lagi dengan Norasni, 50, pada tahun 1981.

Mokhtar menikahi Zawiah di tahun 1983. Ia menginap di rumah istri-istrinya secara bergiliran. Mereka masing-masing tinggal di rumahnya yang nyaman. Jaraknya tidak berjauhan, bisa ditempuh dengan berjalan kaki, di sebuah desa di luar ibukota Malaysia.

"Saya berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, saya berusaha untuk adil. Dan mereka semua bilang bahagia. Tapi saya harus bertanya kepada mereka," katanya.


"Bagaimana cara Anda menyelesaikan masalah, itu yang terpenting. Anda harus melibatkan semuanya. Saya selalu mendengarkan pendapat istri-istri saya, kami selalu berusaha mencari solusi bersama."

Isu poligami di Malaysia menjadi hangat setelah pemerintah mengusulkan kepada parlemen untuk mempermudah melakukan poligami--sebuah praktek nikah yang paling bikin alergi pengikut feminisme barat.
***
Bulan Agustus lalu sebuah klub pasangan nikah didirikan di Malaysia. Namanya, Ikhwan Polygamy Club, didirikan oleh Hatijah Aam. Klub ini sepertinya serius menggeluti masalah poligami. Hal ini terlihat dari pengelola klub yang berbentuk badan usaha perusahaan, Global Ikhwan Sdn Bhd.

"Kami ingin mengubah persepsi masyarakat tentang poligami, agar dipandang sebagai sesuatu yang indah dan bukan sesuatu yang menjijikkan," demikian kata Hatijah Aam, sebagaimana dikutip Canadian Press Senin (28/9).

Dibukanya klub poligami ini kontan mendapat tanggapan, terutama dari kaum feminis Malaysia yang menganggap poligami sekarang ini sudah keluar jalur dari tujuan utama poligami, yaitu melindungi janda dan yatim piatu.

Para aktivis perempuan pendukung feminis mengatakan, cerita seperti pengalaman Mokhtar dengan keluarganya yang bahagia itu bukanlah hal yang biasa. Cerita mengenai tindak kekerasan, penelantaran, dan cemburu lebih banyak ditemui.

Berbeda dengan kaum feminis, Dirjen Jakim (Islamic Development Department) Malaysia, Wan Mohamad Sheikh Abdul Aziz, justru mencurigai ada motif tersembunyi di balik pendirian klub tersebut.

"Kami melihat keberadaan klub itu sebagai bukti dari Al-Arqam Ashari," kata Wan Mohammad. Menurutnya, bekas anggota Al-Arqam berusaha melanjutkan keberadaan mereka, dan sekarang berusaha menjaring anggota baru.

Sister in Islam, organisasi berpaham liberal penganut feminis di Malaysia, kabarnya pernah melakukan studi di tahun 2005 yang melibatkan 40 keluarga poligami. Dari hasil studinya mereka berkesimpulan bahwa poligami membuat anak-anak terjerumus dalam alkohol dan merokok.

Namun, hasil studi itu, menurut Koran Malaysia, harus dicermati dengan tajam, karena fakta kasus anak nakal juga sangat banyak ditemui dalam keluarga yang tidak, bahkan antipoligami, yaitu mereka yang tidak mendapat perhatian cukup dari orangtua.

Saling Melengkapi


President of the Ikhwan Polygamy Club and wife of Abuya Ashaari Muhamad, Hatijah Aam
Semua tuduhan dan kecurigaan kaum feminis ditampik oleh klub poligami yang katanya memiliki 300 suami dan 700 istri sebagai anggota itu. Ikhwan Polygamy Club bercita-cita menjadi contoh dari rumah tangga poligami yang harmonis.

Mereka juga membantu para janda, pelacur yang sudah tobat, dan para wanita lajang yang sudah lewat usia menikahnya, untuk mendapatkan suami yang pantas.

"Apa salahnya dengan berbagi suami? Saya telah menjalaninya hampir 30 tahun." Menurut Hatijah, poligami adalah pendekatan yang paling praktis dan efektif sebagai solusi atas keinginan pria terhadap wanita.

"Sebagian orang memperlakukan poligami sebagai bahan tertawaan, karena mereka tidak benar-benar memahaminya," kata Mohammad Ikramullah Ashari, 43, seorang pebisnis yang memiliki empat isteri.

Kartini, istri Ikramullah yang berusia 41 tahun, mengatakan bahwa poligami baik untuk kehidupannya. Selagi ia berdebat menangani berbagai kasus sebagai pengacara di pengadilan, istri pertama suaminya memasak, membersihkan rumah, dan merawat anak-anak mereka.

"Para istri bisa saling melengkapi," katanya. "Tentu saja Anda akan merasa kangen dengan suami. Ada perasaan persaingan dan cemburu yang lumrah pada awalnya. Tapi setelah beberapa waktu, Anda akan berusaha menjadi teman dan mengetahui bahwa kita bisa saling berbagi tentang masalah masing-masing."

Ikramullah Ashari, kini memiliki 17 anak. Ayah Ikramullah yang berusia 72 tahun memiliki 38 keturunan dari 5 pernikahan, tanpa pernah melanggar batasan 4 istri dalam satu waktu. Juga tak terdengar ada masalah.

Keluarga besar Ashari percaya bahwa poligami adalah sudah seharusnya. Dengan mendirikan klub ini, mereka yakin telah melakukan usaha mulia, yaitu membantu ibu tunggal atau para janda, mantan pelacur dan wanita yang merasa telah melewati usia menikah.

"Kami ingin mengubah persepsi orang terhadap poligami," kata Hatijah Aam, pendiri klub. Ia adalah istri keempat ayah Ikramullah, Ashari Muhammad.

Kesalehan yang menyesakkan


Kesalehan yang menyesakkan
Sebagaimana diketahui, poligami di Malaysia adalah legal bagi umat Islam, meskipun tidak banyak yang melakukannya. Pria Muslim Malaysia diperbolehkan memiliki istri sampai 4.

Mohammad Ikramullah Ashari, adalah putra dari Abuya Ashaari Muhammad, pendiri Arqam, yang dibentuk pada tahun 1969. Mencapai kejayaan di tahun 1990-an dengan anggota sekitar 10.000 yang tersebar Malaysia dan beberapa negara lain.

Pemerintah menyatakan organisasi itu terlarang melalui fatwa yang dikeluarkan Dewan Fatwa Nasional pada Oktober 1994, dengan alasan ajarannya sesat. Namun sebagian pihak mencurigai pelarangan itu adalah bersifat politis karena pengaruh Arqam yang kian melesat saat itu.

"Nama dan kemasannya mungkin berbeda, tapi orang yang memimpinnya sama dengan gerakan terlarang Al-Arqam yang lama." kata Zabidi Mohammed, praktisi hukum yang pernah turut melarang Al-Arqam.

Apapun alasan yang mereka ajukan dalam perdebatan mengenai poligami di Malaysia, yang jelas sejak tahun 1980 poligami di Malaysia sudah diperbolehkan. Dan pada akhir tahun 2005 parlemen menggodok undang-undang tentang keluarga, yang isinya antara lain mempermudah pria Muslim Malaysia melakukan poligami.

Menurut data statistik pemerintah Malaysia, dalam kurun waktu tahun 1995-2004 tercatat 13.516 pernikahan poligami, yang berarti 1,4% dari jumlah pernikahan Muslim yang ada. Sekarang diperkirakan naik menjadi 2%.

Menurut aktivis perempuan, jumlah tersebut kemungkinan lebih banyak, karena tidak sedikit pria Malaysia yang tidak melaporkan pernikahan poligaminya.

Poligami mungkin akan menyesakkan kaum yang bangga dengan paham demokrasi. Tapi negara dengan jumlah Muslim yang mayoritas sebesar 27 juta itu, kesalehan tertanam kuat di sana. Orang Islam dapat ditangkap karena mengkonsumsi minuman beralkohol, atau bergaul bebas dengan lawan jenis, kecuali mereka sudah menikah.[dija/hidayatullah.com]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...