AMERIKA – Jika saja rencana film yang disutradarai oleh Oscar Zoghbi ini benar-benar terwujud, maka tak lama lagi seluruh dunia dapat menyaksikan film tentang Nabi Muhammad dan umatnya yang Zoghbi harap dapat menyingkirkan persepsi salah mengenai Islam, termasuk juga persepsi yang mengatakan Muslim sebagai teroris.

Zoghbi mengatakan dia berharap dapat mengambil beberapa gambar di Mekkah dan Madinah, dan dia memerkirakan filmnya yang berjudul “The Messenger of Peace” dapat menyaingi kesuksesan “The Passion of The Christ” karya Mel Gibson.

Namun beberapa kritikus berpendapat tentang film yang rencananya akan mulai diproduksi tahun depan ini akan menuai kecaman karena tidak menceritakan kisah Nabi Muhammad dan Islam secara lengkap.

Nonie Darwish, penulis buku yang akan muncul berjudul “Cruel and Usual Punishment: The Terrifying Global Implications of Islamic Law", mengatakan film tersebut sepertinya akan berusaha keras tidak menyinggung siapapun.

“Film tersebut mungkin akan menghindari atau membenarkan kekerasan yang dilakukan Nabi Muhammad, dan menunjukkan perang selama bertahun-tahun di Madinah, dimana pembunuhan dan pembantaian massa dilakukan oleh Nabi Muhammad dengan tujuan menyebarkan agama, mengambil alih dan membungkam kritik yang ditujukan bagi dirinya”, katanya.

“Kami mungkin akan menyaksikan sosok Nabi Muhammad yang sebagian besar umat Muslim tidak mengetahuinya”.

Robert Spencer, direktur utama situs Jihadwatch, mengatakan masyarakat Barat yang berusaha mengenali Islam lebih dalam melalui kejadian bom bunuh diri akan sangat dikecewakan oleh “The Messenger of Peace”.

“Mereka telah menanti isu kontroversi melalui judul tersebut, yang selama ini mengetahui kebenaran tentang umat Muslim di seluruh dunia yang membenarkan tindakan kekerasan dari contoh dan kata-kata yang diberikan Nabi Muhammad”, kata Spencer.

Namun Zoghbi mengatakan filmnya menggunakan pendekatan yang lebih pantas.

“Kami mencoba menggambarkan keteladanan Nabi Muhammad. Ini sama sekali bukan film sejarah Islam”, katanya.

“Dan ini bukanlah film propaganda Islam. Film ini juga untuk kalangan Muslim, dan saya berharap film ini sedikit banyak dapat memengaruhi umat manusia untuk menghentikan kekerasan”.

Satu hal yang dihindari Zoghbi adalah pertentangan dan kecurigaan umat Muslim di seluruh dunia seperti yang sebelumnya terjadi terhadap penggambaran sosok Nabi Muhammad.

Aturan dalam Islam melarang untuk menampilkan sosok Nabi Muhammad dalam bentuk apapun, dan pertentangan seringkali meliputi perilisan kartun surat kabar, buku, dan film yang menampilkan sosok Nabi Muhammad.

Pada 2005, surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, menampilkan sosok kartun Nabi Muhammad tengah mengenakan surban dengan sebuah bom diatasnya, menyebabkan kerusuhan yang menewaskan lebih dari 30 orang. Sedang tahun ini, sebuah film dokumenter tentang Islam berjudul “fitna” mengakibatkan protes keras , dan Random House menunda perilisan novel “Jewel of Medina” yang menceritakan kisah hidup seorang istri Rasulullah.

Zoghbi mengatakan dia akan berusaha keras memastikan filmnya tersebut tidak menyimpang dari tradisi Islam.

“Islam sendiri tidak segan-segan menunjukkan kepadamu tentang keberadaan Nabi Muhammad”, katanya. “Tradisi dan kekolotan tidak akan menghalangi kami. Kami tidak berencana menyinggung siapapun”.

Film tersebut juga mengikuti tradisi Islam dengan tidak menampilkan sosok pengikut Nabi Muhammad dalam bentuk manusia. Dar Al Sharia Legal dan Financial Consultancy, Bank Syariah di Dubai, telah ditunjuk untuk memastikan film tersebut tetap berjalan sesuai standar Islam.

Pembuatan "The Messenger of Peace" menghabiskan dana sekitar $ 130 juta yang didanai oleh beberapa penyumbang dari Timur Tengah – khususnya di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir. Zoghbi mengatakan daftar nama para penyumbangnya akan dirilis bulan depan, kecuali mereka yang namanya tidak ingin disebutkan.

Para pemain dan kru juga akan segera dipilih, dan Zoghbi berencana menggunakan agensi di Los Angeles dan Inggris. Banyak dari bagian film diambil di Uni Emirat Arab.

Banyak yang menghubungkan film tersebut dengan film berjudul “The Message” pada tahun 1977 yang dibintangi Anthony Queen yang juga menceritakan tentang Islam. Film tersebut disutradarai Moustapha Akkad, yang bersama dengan saudara perempuannya menjadi korban kekerasan pada 2005, termasuk dalam 60 korban tewas akibat peledakan sebuah hotel di Yordania oleh kelompok Al-Qaeda.

Zoghbi, yang juga turut bekerja dalam “The Message”, mencoba untuk membuat perbedaan dengan film karya Akkad. Dia mengatakan film "The Messenger of Peace" akan menceritakan cerita umum, namun hanya itulah persamaannya. “Ini sama sekali bukan film bikinan ulang. Isi, kisah dan produksinya akan sangat jauh berbeda”.

Dia juga berusaha menghindari kontroversi, dimana perilisan film “The Message” memancing tindakan kelompok ekstrimis menyandera 149 korban di Washington DC, yang dikenal dengan peristiwa “Pengepungan Hanafi Muslim”. Seluruh sandera berhasil dibebaskan, namun seorang polisi dan wartawan tewas dalam bentrokan tersebut.

Penjualan tiket film tersebut juga mengalami kemerosotan ketika diketahui film tersebut didanai oleh Presiden Libya, Muammar Qaddafi.

Zoghbi berharap filmya dapat menyatukan seluruh masyarakat.

“Tidak ada tindakan yang berarti dalam 30 tahun ini, dan saya memutuskan saat ini adalah waktu yang tepat untuk membangun sebuah penghubung”. (suaramedia.com)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...